Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘time’

In Australia, this year it was officially started at 2.00am (normal time), about 12 days ago, or on Sunday, October 5 to be exact. I was actually in Melbourne around that day, so I adjusted all my devices’ clock at a friend’s place where I stayed. This is my second time having it (the Daylight Saving Time or DST), and so I’m fully aware of it.

However, interestingly on Friday before the starting point of time, when I was just arrived at the Southern Cross Station, Melbourne, that beautiful morning, (more…)

Read Full Post »

Well, while struggling with lots and lots of study tasks, I also try to gather again what imagination can I turn into words of poem. And this is what I finally got. It’s in Bahasa Indonesia though – and this is one promise I try to ‘keep’ to some of my fellow Indonesians – but I think non-Indonesian speakers here wouldn’t mind at all. Would you, friends? 🙂

Note: as the watermark shows, the great image is taken from a photography site – Danheller.Com.

kereta api super cepat itu bernama waktu

ia berlalu sangat cepat…

sangat, sangaaat cepat!

tak hendak berhenti di stasiun ini agaknya. mungkin tidak juga di stasiun manapun.. karena ia memang selalu bergerak.

tapi ia sudah melewati semua stasiun. dan sebaliknya, semua orang di semua stasiun sudah tahu akan keberadaannya.

kereta api super cepat itu… bernama ‘waktu’.

kereta api yang teramat panjang… gerbongnya nyaris tak pernah kelihatan; apalagi karena memang ia melintas sangat teramat cepat…

gerbong-gerbong terdepan bahkan kukira tak seorang pun bisa mengenali bentuknya.

apalah lagi kepala gerbongnya…

mungkin tak ada manusia yang bahkan bisa sekadar membayangkan bagaimana rupanya.

tapi walaupun berlalu sedemikian rupa, aku kadang bisa ingat bagaimana rupa sejumlah gerbongnya… setidaknya mungkin, gerbong-gerbong yang masih belum berjarak terlalu jauh.

dan kukira banyak orang lain juga barangkali masih bisa mengenali.

satu gerbong misalnya, baru saja rasanya berlalu… menghadirkan pemandangan mengharukan dari sahabat-sahabat manusia yang menderita di Burma sana.

yang terbaring tak berdaya. yang meringis kesakitan. yang hanya bisa menangis pilu dalam penderitaan.

dan aku hampir tak percaya… ketika bak dejavu, selintas kemudian ada lagi gerbong yang kurang lebih serupa.

apa ini bukan sama sekali gerbong yang sama? [begitu pikirku ketika ia melintas]

tapi tentu saja, yang ini sama sekali berbeda… walaupun yang kulihat di dalamnya adalah gambaran yang nyaris sama.

gerbong dengan ribuan manusia yang tergeletak dalam penderitaan di China. terkapar tak berdaya. meraung kesakitan. merintih di tengah pedihnya penderitaan.

lalu kuingat-ingat lagi… [sembari duduk tenang di bangku stasiun membaca lembaran koranku ditemani secangkir kopi]

aku sebelumnya mungkin juga pernah melihat gerbong yang identik lainnya.

ya, ketika badai Katrina menerpa USA.

juga ketika tsunami menghajar sejumlah pesisir berpenghuni manusia.

ketika gempa meluluhlantakkan Yogya dan sekitarnya.

saat longsor menimpa, banjir melanda, topan dan puting beliung memporak-porandakan apa saja, gunung memuntahkan lava, sungai meluap dan sebagainya… di mana-mana.

juga di kala kereta tumbang, pesawat jatuh, kapal tenggelam, bom meledak, perang meluluhlantakkan, pemberontakan, kekacauan, amarah, meledak, membakar, memusnahkan… hingga punah ranah segala yang ada.

dan kupikir-pikir lagi… [sambil santai menghisap rokokku]

agaknya gerbong-gerbong yang hampir sama itu silih-berganti melintas dengan frekuensi yang semakin tinggi di hadapanku sejak beberapa saat lalu.

dan aku hampir yakin kalau masih bakal ada banyak… mungkin amat banyak… gerbong lainnya yang serupa yang akan kembali melintas.

ataukah aku duduk di stasiun yang salah? [pikirku sambil melongok kiri-kanan]

tidak juga…

tidak, tentu saja tidak.

karena ini memang satu-satunya jalur yang dilewati oleh kereta api super cepat bernama ‘waktu’ itu.

kereta yang masih terus bergerak, melintas sangat teramat cepat di hadapanku… di hadapan semua orang lainnya yang berada di stasiun yang sama, yang kadang sembari menatap penuh takjub ke gerbong yang melintas di depannya, mengurut dada atau merasa bersyukur karena tak ikut menjadi penumpang di sana.

dan sebagian masih dengan tenang tetap membaca korannya, meminum kopi hangatnya, sama seperti diriku.

sementara kereta api super cepat itu dan gerbong-gerbong tragisnya tak hendak berhenti berlalu…

// sydney – 17 may 2008 – 4.45am //

A short abstract in English:

It’s about an express train [I] called ‘time’. A train that lately seems most of its carriages are full of human being in misery. From China, Burma, the USA, Indonesia; from all over the world basically. And it’s still moving… probably will continue to show the same view.

Read Full Post »