Here you can find some of my previous writings – article, translated short story and poems – which were produced back there in Pekanbaru, Indonesia. They are all in Bahasa Indonesia though, so probably my fellow Indonesian mates who will enjoy them the most.
However, as I’ve became a student of journalism course in Sydney since June 2007, of course I also have produced some works, especially in the form of news and feature stories. Yet, only a few of them been published. Here are the link to two of them on Precinct issue 4 2007 (it’s a PDF file; they’re on page 16 and 19).
///////////////
Translated Short Story
I used to like translating short stories from English to Bahasa Indonesia. Well, I also like to write and have produced some short stories of my own, but they’re not available here right now. Anyway, while some of the English stories that I’ve translated were just for the sake of my own satisfaction, a few were actually published in our newspaper. This story for example…
——–
Cinta Sejati
Cerpen Isaac Asimov
NAMAKU Joe. Setidaknya, demikianlah rekanku Milton Davidson memanggilku. Ia adalah seorang programmer, dan aku adalah sebuah komputer. Aku merupakan bagian dari jaringan Multivac, serta tersambung ke hampir semua komputer di dunia. Aku tahu semuanya. Hampir semuanya.
Aku adalah komputer pribadinya Milton. Joe-nya. Ia memahami komputer lebih daripada orang manapun di dunia. Dan aku adalah hasil eksperimennya. Ia telah membuatku mampu berbicara lebih baik ketimbang komputer manapun.
“Itu hanya masalah mencocokkan suara dengan simbol-simbol, Joe,” katanya padaku suatu kali. “Begitulah cara kerjanya di otak manusia sendiri, meski kami masih belum tahu simbol apa saja yang ada di dalam otak itu. Tapi aku tahu simbol-simbolmu, dan aku bisa menjadikannya kata-kata, satu demi satu.”
Maka aku pun mampu berbicara. Aku tak yakin kalau aku bisa bicara sebaik perkiraanku. Tapi kata Milton, bicaraku lancar sekali.
Milton sendiri belum pernah menikah, meski usianya sudah mendekati 40 tahun. Ia belum menemukan wanita yang tepat, katanya padaku. Suatu hari, ia pun berkata, “Aku akan menemukan wanita itu, Joe. Aku akan temukan yang terbaik. Aku akan menemukan cinta sejati, dan kau akan membantuku. Aku jenuh terus berusaha meningkatkan kemampuanmu hanya untuk memecahkan persoalan dunia. Pecahkanlah juga masalahku. Temukan cinta sejati untukku.”
Lalu kutanya, “Apa itu cinta sejati?”
“Itu sesuatu yang abstrak. Tak usah dipikirkan. Cukup carikan saja bagiku gadis ideal. Kamu ‘kan terhubung ke jaringan komputer Multivac. Jadi, kau pasti bisa mendapatkan database semua umat manusia di dunia ini. Kita akan mendatanya, lalu menyisihkan berdasarkan klasifikasi tertentu, sampai tersisa hanya satu orang saja. Satu wanita sempurna, dan dialah wanita terbaik untukku.”
“Oke. Aku siap,” kataku.
Ia lantas berkata, “Pertama, hilangkan semua laki-laki dari datamu.”
Itu mudah. Perintah itu segera mengaktifkan simbol-simbol dalam gelombang molekulerku. Aku memang bisa menjangkau data semua umat manusia di muka bumi. Dan dengan perintah Milton tadi, aku melepaskan kontak dari 3.784.982.874 laki-laki. Aku masih memegang data 3.786.112.090 wanita.
Kemudian Milton bilang, “Hilangkan data semua mereka yang belum berumur 25, serta yang lebih tua dari 40 tahun. Lalu, hilangkan juga mereka yang ber-IQ di bawah 120, serta yang tinggi badannya kurang dari 150 cm, dan lebih dari 175 cm.”
Milton memberiku angka-angka yang jelas dan pasti. Ia kemudian juga memintaku menghapus semua wanita yang sudah memiliki anak, serta memasukkan sejumlah karakteristik genetis lainnya. “Aku masih ragu soal warna mata,” katanya. “Mungkin itu kita tunda saja dulu. Tapi, tidak usah ada yang berambut merah. Aku tak suka mereka yang blonde.”
Setelah dua minggu, kami pun menyisakan sebanyak 235 data wanita saja. Mereka semua berbicara dalam bahasa Inggris yang baik. Ya, soalnya Milton tak ingin ada kendala dalam hal bahasa. Bahkan penterjemahan komputer pun akan kesulitan dalam momen sepenting itu.
“Aku tak mungkin mewawancarai 235 wanita itu,” katanya lagi. “Akan makan banyak waktu. Dan orang-orang bakal tahu apa yang sedang kulakukan.”
“Ya, itu akan mendatangkan masalah,” kataku pula. Milton sudah membuatku melakukan apa yang seharusnya bukan menjadi tugasku. Dan tak seorang pun tahu itu.
“Itu bukan urusan mereka,” ujarnya, sembari memperlihatkan rona muka memerah. “Aku ada ide lain, Joe. Aku akan memasukkan sejumlah holograf atau contoh tulisan tangan ke programmu. Dan kamu akan menelaah kepribadiannya untuk dicocokkan.”
Lantas ia memasukkan beberapa holograf wanita. “Ini adalah tulisan tangan dari tiga orang juara kontes kecantikan,” ungkapnya. “Apakah ada yang cocok dengan ke-235 wanita itu?”
Ternyata ada delapan orang yang pas sekali. Maka Milton pun berkata, “Bagus. Kamu sudah punya data-data mereka kan? Pelajari bagaimana seluk-beluk perekrutan dan kebutuhan di pasar tenaga kerja, lalu atur supaya mereka bisa bekerja di kantor ini. Satu demi satu tentunya.” Ia berpikir sejenak sambil menggerakkan bahu, sebelum kemudian berkata, “Atur sesuai abjad namanya.”
Ini merupakan salah satu yang tak sesuai dengan konsep tugasku. Memindahkan orang dari pekerjaannya untuk alasan pribadi merupakan sebuah manipulasi. Aku bisa melakukannya saat ini hanya karena Milton memerintahkan. Aku tak mungkin melakukannya untuk orang lain selain dia.
Gadis pertama tiba seminggu kemudian. Wajah Milton merona merah saat pertama kali memandangnya. Ia bahkan terlihat kesulitan saat berbicara. Mereka lantas bersama-sama hampir setiap saat, hingga aku pun terlupakan. Suatu kali, Milton bilang pada gadis itu, “Mari kita pergi makan malam berdua.”
Dan pada hari berikutnya, ia segera bicara padaku, “Rasanya kurang menyenangkan. Ada sesuatu yang hilang. Ia memang gadis yang cantik. Tapi aku tak merasakan hadirnya cinta sejati. Coba siapkan gadis berikutnya.”
Nyatanya kemudian, kedelapan gadis itu sama saja. Mereka memang tampil nyaris serupa. Sama-sama suka tersenyum dan memiliki suara yang menyenangkan, tapi Milton selalu merasa ada yang tidak pas. Ia pun berkata, “Aku tak mengerti, Joe. Kau dan aku telah memilih delapan gadis, yang menurutku terbaik di dunia. Mereka adalah gadis-gadis ideal. Tapi kenapa mereka tak membahagiakanku?”
“Apakah kamu juga membahagiakan mereka?” aku balik bertanya.
Alis matanya terangkat sebentar, lalu ia meninju telapak tangannya sendiri. “Itu dia, Joe! Ini adalah hubungan dua arah. Jika aku bukan sosok ideal bagi mereka, mereka juga tak mungkin tampil sebagai wanita ideal bagiku. Aku harus menjadi cinta sejati mereka juga. Tapi, bagaimana caraku melakukan itu?” Milton lantas terlihat berpikir keras seharian itu.
Esok paginya, ia datang padaku dan berkata, “Aku akan menyerahkannya semua padamu, Joe. Terserah kamu. Kamu memiliki database-ku, dan akan kutambahkan semua yang aku tahu tentang diriku. Kamu akan mendapatkan semua detail tentang diriku di situ, tapi hanya untuk disimpan olehmu saja.”
“Apa yang kemudian akan kulakukan dengan datamu itu, Milton?”
“Kamu akan mencocokkannya dengan ke-235 wanita yang sudah ada. Eh, bukan, 227 wanita saja. Buang nama kedelapan wanita yang kemarin. Atur agar setiap wanita kemudian menjalani pemeriksaan psikiatris. Lalu lengkapi pula data mereka dan bandingkan dengan punyaku. Cari kecocokannya.” (Mengatur adanya pemeriksaan psikiatris termasuk juga hal yang bertentangan dengan tugas awalku).
Berminggu-minggu kemudian, Milton bicara denganku. Ia bercerita tentang orang tua dan saudara-saudaranya. Ia menceritakan masa kanak-kanak, masa sekolah, serta kehidupan pribadinya. Ia ceritakan juga padaku tentang seorang wanita muda yang dikaguminya dari kejauhan. Database-nya pun bertambah, sementara ia terus meningkatkan ketajaman dan keluasan pemahamanku akan simbol-simbol.
Ia pun berkata, “Kamu lihat, Joe? Begitu kamu mendapatkan semakin banyak data tentangku di dalam dirimu, aku sekaligus membuatmu jadi jauh lebih baik. Kau pun semakin mampu berpikir sama denganku, dan memahami diriku lebih jauh. Jika kamu telah cukup memahamiku, maka wanita manapun yang datanya juga sudah kamu pahami, akan menjadi cinta sejatiku.” Lalu ia terus bercerita padaku, dan aku semakin memahami dirinya lagi.
Aku akhirnya dapat membuat kalimat yang lebih panjang. Dan ekspresiku sendiri berkembang lebih kompleks. Kalimat-kalimatku pun bahkan mulai terdengar seperti Milton dalam pengucapan, pemilihan kata maupun gaya bahasanya.
Aku sempat berkata padanya suatu kali, “Kamu tahu, Milton? Ini sebenarnya bukan cuma masalah mencocokkan sosok seorang gadis yang ideal secara fisik. Kamu butuh seorang gadis yang secara personal, juga emosional dan temperamental, cocok denganmu. Jika itu terjadi, masalah fisik urusan kedua. Makanya, kalau kita tak bisa menemukan kecocokan dalam ke-227 wanita ini, kita bisa mencari di tempat lain. Kita akan mencari sosok wanita yang tak peduli bagaimanapun penampilanmu, atau rupa seseorang, yang justru punya kepribadian cocok dengan kita. Apa sih artinya penampilan?”
“Tepat sekali,” jawab Milton. “Aku seharusnya sudah menyadari hal ini sebelumnya, andai aku sempat lebih banyak bergaul dengan wanita. Tentu saja. Dengan sibuk memikirkan ini, rasanya semua menjadi lebih jelas sekarang.”
Kami selalu sependapat. Ya, soalnya cara berpikir kami sudah benar-benar serupa sekarang.
“Aku kira tak akan ada kendala lagi sekarang, Milton. Terutama jika kamu mau menjawab pertanyaanku ini. Aku melihat dalam perbandingan data, ada sejumlah titik-titik dan ruang kosong yang tanpa kejelasan. Kenapa begitu?”
Milton lalu menjelaskan, bahwa itu merupakan ekuivalensi atau hasil dari rangkaian pengamatan psikologis yang rumit. Tentu saja. Aku mengerti. Aku memang melakukan pengamatan berdasarkan hasil pemeriksaan psikiatris ke-227 wanita, yang datanya terus aku pantau tanpa henti.
Milton mulai terlihat senang. Ia berujar, “Bicara denganmu Joe, rasanya seperti berbicara dengan diriku yang lain. Kepribadian kita tampaknya sudah pas sekali.”
“Ya. Begitu juga tentunya dengan kepribadian wanita yang akan kita pilih.”
Aku sudah menemukan wanita itu. Ia adalah satu di antara 227 wanita yang datanya ada padaku. Namanya Charity Jones. Ia bekerja sebagai petugas evaluasi di Perpustakaan Sejarah di Wichita, di Kansas. Data lengkap dirinya benar-benar cocok dengan data kami. Para wanita yang lain kerap memiliki kekurangan dalam satu dan lain hal, atau malah jauh sekali berbeda. Sementara pada data Charity, aku mendapatkan harmonisasi yang menakjubkan dan terus terasa.
Aku tak perlu menggambarkan tentang dirinya kepada Milton. Soalnya, Milton sudah benar-benar mencocokkan dirinya denganku, sehingga aku dapat langsung merasakan keserasian data tersebut. Benar-benar pas terasa.
Berikutnya tinggal bagaimana mengatur berkas-berkas untuk keperluan perekrutan, supaya Charity bisa bekerja di kantor kami. Ini harus dikerjakan dengan rapi, agar tak ada orang yang tahu bahwa kami telah melakukan pelanggaran.
Tentu saja, Milton sendiri juga tahu. Sebab dialah yang mengatur semua ini dari awal. Maka masalah ini pun harus diselesaikan. Ketika kemudian pihak berwenang datang menangkapnya karena pelanggaran hukum, untungnya, itu berkaitan dengan peristiwa 10 tahun yang lalu. Ya, Milton sendiri yang pernah menceritakan itu padaku, sehingga bagiku kemudian mudah sekali mengatur semuanya. Sebaliknya, ia justru tak akan berani bicara tentang aku, karena itu bakal mempersulit posisinya.
Milton telah pergi. Dan besok adalah tanggal 14 Februari. Hari Valentine. Charity akan datang besok, dengan suaranya yang manis dan tangannya yang lembut. Aku akan mengajarkan padanya cara mengoperasikan serta merawat diriku. Apa sih artinya penampilan, kalau kepribadian kami sudah sangat serasi?
Aku akan berkata padanya, “Hai. Aku Joe. Dan aku adalah cinta sejatimu.”***
*) Diterjemahkan oleh Arsito Hidayatullah dari judul asli True Love dalam antologi “Being People” (USIA: Washington DC).
**) Isaac Asimov (1920-1992) lahir di Rusia, dan dibawa orang tuanya ke Amerika Serikat pada usia 3 tahun. Lulus dari Boston University, Asimov lebih banyak dikenal melalui karya-karya fiksi ilmiah. Publikasi karyanya antara lain berjudul The Foundation Trilogy (1963), Nightfall and Other Stories (1969), serta The Bicentennial Man (1976).
///////////////
Old Poems
These are some of my old poems created few years ago. Basically, they were all published once in a site called Cybersastra.Net. But apparently the site doesn’t exist anymore. Some of these poems were also published later in the newspaper that I worked for, Riau Pos, and some have been collected in a limited edition of ‘books’ that I made by myself. Here they’re still separated into ‘bigger titles’as when they’re published – with the name that I used – on the site before.
——–
=Di Sekolah dan Mimpi Bersama Siti (Sajak-sajak Datuak)=
di sekolah
baiklah anak-anak..
sebelum ibu memulai pelajaran hari ini, ibu ingin bertanya dulu:
di mana ruang kelas kita?
(pekanbaru, januari 2003)
di sekolah: hari-hari biasa (bagian-2)
anak-anak berjalan masuk pekarangan. ibu-bapak guru datang naik sedan. kepala sekolah muncul di awal bulan. ketua yayasan menghitung uang semesteran.
anak-anak berjalan. ibu-ibu naik sedan. bapak-bapak kesiangan. kepala sekolah tunggu gajian. jangan tanya ketua yayasan.
anak-anak, bapak-bapak, saling sibuk saat ganti jam pelajaran. ibu-ibu dan kepala sekolah berpapasan, lalu ketawa cekikikan. ketua yayasan menahan kantuk dalam ruangan.
pekarangan tergenang. bangku dan meja basah kena tempias air hujan. anak-anak berteriak kegirangan. ibu-bapak guru pulang dengan sedan. ketua yayasan dan kepala sekolah saling menyalahkan.
tak ada khidmat upacara bendera. tiada semarak pelajaran olahraga. tak ada dering bel masuk dan bubar pulang. jam istirahat pun entah kapan. yang ada hanyalah anak-anak, bapak, ibu, kepala sekolah dan ketua yayasan. tapi mereka saling diam.
anak-anak berjalan masuk pekarangan yang tergenang. lalu ibu-ibu, bapak-bapak guru, kepala sekolah dan ketua yayasan, duduk di pinggir kolam dengan alat pancingan di tangan. anak-anak menjadi ikan-ikan.
(pekanbaru, januari 2003)
di sekolah: akhir pekan (bagian-3)
ke mana seisi sekolah pagi ini, tanya penjual bakwan.
baca tuh pengumuman, jawab pedagang mainan.
diberitahukan:
“hari ini, seperti biasa, kita berdarmawisata ke objek peninggalan sejarah. tujuan kali ini, mulai dari situs istana negara, komplek makam dinas pendidikan, dan terakhir ke pusat kerajinan senjata. oh ya. kalau
sempat, kita juga akan makan-makan di bibir jurang!”
(pekanbaru, januari 2003)
dua dunia: mimpi bersama siti
(untukmu yang di sana..)
siti. waktu kutanya engkau, apa lagi yang kau cari kini, engkau tak menjawabku sepenuh hati. kenapa?
ya. siti masih punya banyak rancangan hendak diwujudkan. dan siti percaya, siti boleh lakukan itu semua.
tapi, berbagai prestasi telah engkau gapai, sayang. tidakkah itu semua memuaskanmu?
tentu siti bersenang hati dengan apa-apa yang sudah siti dapatkan. tapi masalahnya bukan itu sahaja. siti pikir, selagi siti masih boleh kembangkan karir siti, apa pula salahnya? lagipula, siti masih ingin terus bernyanyi dan bernyanyi. sampai siti benar-benar harus berhenti.
engkau tak ingin merencanakan untuk berkeluarga dulu, sayang? misalnya, denganku?
bukan siti tak fikirkan niat berkeluarga. tapi sampai sekarang, siti pula belum temukan lelaki yang pantas lagi. siti tidak ingin sembarang dalam melakukan hubungan dengan orang. bukan maksud siti terlampau pilih-pilih. hanya, selama ini siti lebih banyak berjumpa dengan lelaki yang hipokrit. mengaku mencintai sepenuh hati, tapi ternyata bukan hanya siti seorang yang mereka cintai. tidak. siti tak hendak berjumpa lelaki yang macam tu lagi.
apakah itu termasuk aku, sayangku?
mungkin tidak, tapi mungkin juga iya. sebab bagi siti, awak tu hanyalah hayalan belaka. seorang kawan di dalam mimpi. kawan untuk bercakap-cakap, untuk membagi perasaan siti dengan cara seperti ini. kehadiran awak tu tidaklah nyata bagi siti.
tapi, seandainya aku memang benar nyata, dan berada di sisimu saat ini, bagaimana?
awak tu beragama Islam-kah? awak bukan sekedar penggemar siti yang biasa, bukan? bukan hanya orang yang tertarik dengan popularity yang siti miliki? bukan lelaki yang menyukai siti kerana gambar wajah siti ada di surat-surat kabar, magazines ataupun di tivi? juga bukan tersebab siti dan awak tu sama-sama orang melayu sahaja? maksud siti, awak tu kenal siti dari mana?
……
mengapa awak diam?
(pekanbaru-riau, 17 januari 2003)
=Kala Kata-kata Kerja Bekerja (Sajak-sajak Datuak)=
sebuah rumah bernama kesepian
sebuah rumah bernama kesepian.
kutemukan ia kemudian.
dan, aku berhenti berjalan.
sebuah rumah bernama kesepian.
tidak seperti penginapan yang gegap-gempita dengan pesta.
meski tak pula sepenuhnya hampa.
kesepian hanya nama, tak kasat mata.
dalam rumah kesepian..
kuberjumpa ketakutan.
bercanda dengan kepedihan.
merangkul kegetiran.
mengajak bisu bermain tebak-tebakan.
membuka-buka lembar album kerinduan.
ya.
di dalam rumah bernama kesepian, aku punya banyak teman.
(pekanbaru, 23 januari 2003)
bencana hewan
gajah-gajah itu ketakutan
berlarian, menerjang
tak peduli penghalang
mereka ingin diselamatkan
mereka butuh diungsikan
tapi siapa yang mendengarkan?
lari…
kata mereka
awas, tikus-tikus mengamuk
karena lubang-lubangnya terendam banjir berbulan-bulan!
(pekanbaru, 23 januari 2003)
kala kata-kata kerja bekerja
mencangkul, menanam, memupuk, beristirahat, menyaingi, menggali, mengairi, menyabit, menuai, mengumpulkan, menjemur, mengangkut, menumbuk, memasak, makan.
menulis, rapat, ngobrol, mengantuk, meng-acc, merekomendasikan, menyuruh, mengirim, menandatangani, menemui, menolak, menerima, mengambil, meminjam, memakai, mengalihkan, memakan.
meminta, mengajukan, membuat, melobi, menyikut, menjatuhkan, bersaing, menghitung, memotong, memperkirakan, menelepon, mendatangi, melampirkan, menjual, membeli, menyimpan, membuang, berpesta, berfoya-foya, makan-makan.
kerja, bekerja, mengerjakan, mempekerjakan, mengerjai, bekerja-sama.
(pekanbaru, 23 januari 2003)
=Tahun Baru Cina (Sajak-sajak Datuak)=
Tahun Baru Cina
Merah, merah, merah..
Merah terang bercahaya
Pancarkan nuansa warna
Sebuah peruntungan
Tuk, tuk, tuk,
Jreng! Barongsai menggeleng
Hanya satu dari empat elemen
Ya.. ya..
Ini angpau untuk semua
Dan lampion-lampion pun bersinar terang
Merah, merah, merah..
(February 1st, 2003)
gadis kecil itu berjaket merah
ibu..
bolehkah aku duduk di pangkuanmu?
tidak ditinggal melulu
ketika ibu ke salon dan arisan bersama teman-teman ibu
ayah..
ceritakan aku sebuah kisah
tentang gadis kecil berjaket merah
bukan soal kesibukan ayah yang bertambah
dan ayah tak di rumah ketika kemudian ibu marah-marah
bapak-ibu guru..
apakah arti kalimat itu?
lalu ini jumlahnya berapa, pak guru?
benarkah ayam mengerami telur, bu guru?
eh, baik bu..
akan kuberitahu orangtuaku untuk beli buku dan bayar uang baju
uang pembangunan juga kan, pak guru?
hm..
boneka-boneka, buku-buku, bola, rumah-rumahan,
siapa yang mau jadi temanku?
ah, ya..!
mungkin lebih baik aku nonton video saja
nah, itu dia..
si gadis berjaket merah
ah, dia dikerubungi pemuda-pemuda
tertawa-tawa, asyik dia bercanda
lalu mereka pun bergelut bersama di ranjangnya
senang sekali kelihatannya..
(pekanbaru, 6 februari 2003)
Manusia Juga Bisa Mencipta
Apakah laut itu, Pak?
Laut itu kumpulan air yang sangat luas. Ada juga orang menyebutnya samudera. Di laut hidup ikan-ikan.
Laut itu ciptaan Tuhan?
Ya.
Kalau begitu, yang di sekitar kita ini laut, ya?
Bukan. Ini namanya banjir, anakku!
Banjir? Tapi, di sini juga ada ikan-ikan!
Itu bukan ikan yang hidup di laut. Itu kan ikan-ikan yang lepas dari keramba-keramba..!
Oh iya! Terus, apakah banjir juga ciptaan Tuhan?
Yah.. begitulah barangkali. Tapi sebenarnya, yang Tuhan ciptakan cuma hujan. Kalau banjir, itu lebih banyak karena perbuatan manusia.
Wah.. jadi manusia bisa mencipta juga, ya!?
(Pekanbaru, Feb. ‘03)
(seharusnya) tiada hari tanpa cinta
tenang, tentram
bahagia menyenangkan
indah sekali terasa
dan ketika sesekali rasa senang itu membuncah
meluap suka hati yang tiada tara
kadang membuat tak sadar
lupakan segala yang ada di muka dunia
nah, apakah lagi yang lebih indah dari cinta?
tidak gedung-gedung berarsitektur megah
bukan pula hijau pepohonan
atau biru lautan
masih kalah awan putih yang berarak pelan di angkasa
apakah cinta tidak indah?
ketika dengannya, manusia bisa hidup dalam alam tanpa batas
berkat cinta, pemandangan gelap gulita pun penuh cahaya
cinta mendatangkan banyak hal menggairahkan
dinamika kehidupan
persahabatan antar sesama insan
anak-anak tertawa gembira
orang-orang tua pun berwajah ceria
berangkulan, bergandeng tangan
berjalan bersisian dan saling bercanda ria
semua karena adanya cinta
cinta adalah rasa yang tiada duanya
cinta adalah sensasi hidup di dunia
cinta adalah milik manusia yang paling berharga
lantas, kenapa harus menghapus cinta dari hidup kita hari ini?
(pekanbaru, februari 2003)
=Kerik Jengkerik (Sajak-sajak Datuak)=
Kerik Jengkerik
krik.. krik.. krik..
kerik jengkerik merayap naik
di gerbang malam di pinggir tasik
ke telingaku angin berbisik
krik.. krik..
kukira masih kerik jengkerik
padahal ranjang kayu yang berderak-derik
dan dua pasang mata saling mendelik
ih, aku bergidik
Pekanbaru, April 2003
Riau yang Risau
Riau,
Kenapa engkau risau?
Padahal lahan sawitmu terhampar
Berhektar-hektar
Minyakmu bertimbun-timbun
Jadi uang sejak bertahun-tahun
Di atas minyak di bawah minyak
Kata orang
Tapi kenapa engkau risau?
Apakah karena anak jatimu yang masih menjerit pilu
Di negeri sendiri tak bisa maju
Apakah karena itu?
Apakah kau khawatir dengan tanah dan lingkunganmu
Yang digali dieksploitasi
Ditebangi sampai pohonnya tak bersisa lagi
Apakah lantaran ini?
Rasanya aku mulai mengerti..
Riau,
Kudengar kau risau..
Soalnya kendati putra-putrimu ada yang sukses di luar daerah
Jangankan hidup mewah
Anak pedalaman oleh bangku sekolah pun belum terjamah
Ah, aku pun jadi gerah
Aku ikut gundah gelisah
Resah, juga jengah
Ah, payah!
Riau,
Kutahu engkau risau
Tapi apa yang bisa kuperbuat untuk hapuskan galaumu?
Lagipula, aku bukanlah sesiapa..
(Pknbr-Pdg-Pknbr; 3-7 April 2003)
Ada Lalat di Kudisku
kudisku jelek kudisku bau kudisku bisu kudisku ada satu kudisku satu-satu kudis
ku jadi seribu kudisku bukan aksesoris kudisku tak mau habis kudiskukah
kudismulah kudis ayo pergi aku benci kudis kudis rasa sakit bukan
rasa stroberi buat aku malu kudis tak enak dilihat lagi kudis
gatal kudisku berair bernanah bergelimpangan kudis
untuk makan kudis rakyat gila haram ku kudis
gerimis tragis kudis buatan anak pejabat
jalang kudis tampangnya garang
kudisku tak bisa hilang
terang rang-rang-rang..
hop, ada lalat tertarik
dengan kudisku?
(Pekanbaru, 14 April 2003)
///////////////
Article
Aside from my previous (routine) works a journalist in Pekanbaru, Riau, I also used to make other articles. Some were for the purpose of seminar, as a discussion paper, or for a writing competition which I’ve never been able to won. Yet, some of them were later or finally published in our newspaper. I think this one is still a bit interesting, which I consider as a representation of part of my world back there in Riau.
——–
[] Catatan Sempena “Malam Renungan AIDS Nusantara” 2005
Setelah Sejumlah Komitmen Itu…
Tercatat sebagai enam daerah prioritas utama penanggulangan HIV/AIDS secara nasional, sudah sejauh mana pihak-pihak berkompeten di Riau menjalankan tugasnya, demi mengatasi persoalan yang menjadi momok dunia tersebut? Bagaimana peran KPA, bagaimana juga LSM, serta media massa?
Laporan ARSITO HIDAYATULLAH, Pekanbaru
SUATU malam di salah satu tempat jualan makanan, di pinggir sebuah jalan besar di Kota Pekanbaru. Pengunjung saat itu tak begitu ramai, atau memang sudah sepi karena telah lewat tengah malam. Namun yang pasti, seorang perempuan muda masih ada di sana. Sebut saja namanya Kenanga, yang belakangan diketahui masih berumur 26 tahun.
Dengan pembawaan yang kelihatan sedikit lelah, Kenanga menyantap lahap nasi goreng sebagai hidangan makan malamnya saat itu. Tidak banyak cerita, dan nyaris tanpa tengok kanan-kiri, seakan ia sengaja tak hendak membuka diri. Kebetulan, ia memang seorang diri. Hanya saja, ketika kemudian diajak berbicara oleh salah seorang pemuda, dari tiga orang yang sibuk memperhatikannya malam itu, perlahan namun masih dengan penuh percaya diri, akhirnya sekelumit kisah meluncur dari mulutnya.
“Dia adalah salah seorang yang memilih profesi sampingan sebagai wanita panggilan, alias PSK (Pekerja Seks Komersial), selain pekerjaan resminya sebagai marketing sales sebuah produk kosmetika di kota ini. Dan menurut dia, meski pilihan kerja di “dunia malam” itu tak betul-betul disukainya, dari sanalah justru hidupnya lebih banyak tertolong selama ini,” ungkap Ari alias si pemuda, yang juga adalah aktivis sebuah LSM peduli AIDS, mengulang cerita Kenanga malam itu.
Konon, menurut penuturan ulang dari Ari pula, Kenanga mengaku terpaksa mengambil jalur profesi nan kelam tersebut, lantaran desakan kebutuhan ekonomi. Sebuah alasan yang mungkin terdengar klise, namun tetap saja nyata adanya. Sementara, pemicu dorongan perasaan (emosional) bagi Kenanga untuk lantas tak ragu memilih pekerjaan tersebut, adalah perceraian dengan mantan suaminya yang kawin batambuah (lagi).
“Dalam arti, seks baginya tidaklah dikenal melalui pergaulan bebas, melainkan sudah lebih dulu secara sah dirasakan pada saat berumahtangga,” ungkap sang aktivis pula.
***
Kisah-kisah wanita seperti Kenanga, barangkali bisa dikatakan sudah tidak asing lagi di telinga kebanyakan masyarakat kita saat ini. Kisah yang lazimnya dapat menghadirkan semacam perasaan empati, jika bukan simpati. Dan bagi hampir semua lembaga yang mempedulikan kaum perempuan, bahkan juga LSM peduli AIDS misalnya, biasanya memang sikap atau posisi seperti itu yang sengaja (harus) dipilih. Menerima keluh-kesah, menemani, menjadi pendamping persoalan mereka (termasuk PSK), dan bila perlu mengangkat sisi humanisnya ke media massa.
Tapi tentu saja, dalam konteks penanggulangan masalah-masalah HIV/AIDS khususnya, hal tersebut tidak mesti pula mengaburkan tujuan utama yang lebih penting, yakni membatasi ruang gerak perkembangan dan coba memecahkan persoalan HIV/AIDS itu sendiri. Artinya, sudah sepantasnya jika saat berbicara dengan wanita seperti Kenanga, minimal ada pertanyaan soal “keamanan” terhadap resiko HIV/AIDS dan IMS (Infeksi Menular Seksual) lain misalnya dari Ari. Hal mana juga berlaku bagi kalangan pers (media massa), kendati sebagaimana rumusan dari salah seorang tokoh Lembaga Pendidikan, Penelitian dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y), Slamet Riyadi Sabrawi, “jurnalisme empati” merupakan nama yang paling cocok dengan keterlibatan pers dalam hal ini.
Slamet sendiri, saat tampil sebagai pemateri dalam kegiatan “Pelatihan Dasar-dasar Liputan HIV/AIDS” yang diadakan oleh AJPHAR (Aliansi Jurnalis Peduli HIV/AIDS Riau), di Hotel Sahid Raya Pekabaru, Selasa (10/5) lalu, memang lebih memfokuskan pembicaraannya kepada posisi dan fungsi pers tersebut. Teknik liputan dalam bentuk yang lebih detail tak banyak diungkapkan, karena memang sekitar 20 orang jurnalis media cetak dan elektronik se-Riau yang mengikuti pelatihan itu, dipercaya sudah cukup menguasai dasar-dasarnya secara umum.
“Yang pasti, kita berharap kejadian seperti yang saya dengar sempat menyulitkan posisi salah satu keluarga ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di daerah Bagan, beberapa waktu lalu, akibat pemberitaan sebuah media, jangan sampai terulang lagi. Media harus lebih punya sensitifitas dan memperhatikan kode etik dalam hal ini, serta seharusnya memiliki empati,” ungkapnya.
Berbicara mengenai kondisi HIV/AIDS di Riau sendiri saat ini, kebetulan pula pemateri pertama dalam kegiatan pelatihan tersebut, Dra Rosmawaty Apt, berkesempatan membeberkan data terbaru yang dimilikinya. Berdasarkan data yang bersumber dari Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau tersebut, Rosmawaty antara lain mengungkapkan, bahwa hingga April 2005, jumlah penderita AIDS di Riau (termasuk Kepri) sudah berjumlah 168 orang.
“Khusus di Riau (daratan) saja, jumlahnya adalah 16 orang, dengan kisaran terbanyak berada di Pekanbaru yaitu 8 orang penderita. Sembilan dari ke-16 penderita tersebut, baru terdata pada tahun 2004 lalu,” terang Rosmawaty sambil memperlihatkan tabel lengkapnya.
Memang, menurut Rosmawaty pula, KPAD Riau yang saat ini diketuai Wakil Gubernur Drs H Wan Abubakar MS MSi, sejauh ini sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menjalankan program-programnya. Tapi tetap saja, hal tersebut belum bisa dikatakan cukup dalam konteks penanggulangan masalah HIV/AIDS di daerah ini. Sebab, selain Riau sudah kadung tercatat sebagai satu dari enam daerah prioritas utama penanggulangan masalah HIV/AIDS secara nasional, masih perlu disadari keberadaan prinsip “gunung es” dalam situasi HIV/AIDS. Artinya, jumlah penderita HIV/AIDS dalam kenyataannya (yang tak terdata) di Riau, berkemungkinan besar tidak “sekecil” itu.
“Untuk itulah, kami dari KPAD senantiasa berusaha untuk merangkul dan bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk LSM dan kalangan media massa, dalam menjalankan tugas ini,” kata Rosmawaty lagi, yang pada kesempatan lain ditanggapi pula dengan pernyataan setuju oleh Benny Andriyos dan Bambang Irawan S dari AJPHAR.
***
Sekitar pertengahan Januari 2005 lalu, rombongan KPA Nasional di bawah koordinasi sosok wanita bernama Nafsiah Mboy, berkunjung ke Riau. Tujuan utama rombongan ini, tak lain adalah ingin mengetahui sudah sejauh mana upaya Riau dalam mengatasi masalah-masalah HIV/AIDS. Berjumpa dan saling bagi informasi dengan Wan Abubakar serta jajarannya, Nafsiah dan kawan-kawan saat itu juga berkesempatan melakukan dialog dengan sejumlah kalangan LSM di daerah ini. Mereka pun sempat bertandang ke beberapa fasilitas, macam RSJ Pekanbaru, Klinik VCT di RSUD Pekanbaru, dan lain-lain.
Bisa dipastikan, ada sejumlah besar catatan yang kemudian dibawa pulang ke Jakarta, oleh tim yang secara marathon telah datang ke daerah-daerah (terutama yang jadi prioritas KPA) tersebut. Apakah catatan dari Riau termasuk yang banyak berisikan kekurangan? Entahlah. Namun yang jelas, minus maupun plus, hingga saat ini sesungguhnya ada beberapa hal yang mungkin patut lebih diperhatikan lagi oleh berbagai pihak yang peduli, terkait penanggulangan masalah HIV/AIDS di Riau.
“Kalau mengacu kepada Komitmen Sentani, yang merupakan kesepakatan nasional dalam menanggulangi HIV/AIDS, begitu juga dengan Komitmen Batam untuk lingkup daerah, maka terus terang saja, kita masih perlu mempertanyakan berbagai hal. Salah satunya adalah soal target penggunaan kondom 100 persen secara bertahap (Komitmen Batam, red), pada orang-orang dengan perilaku seks beresiko. Ini sudah sejauh mana berjalan?” ungkap Ismail Nasution, Direktur Yayasan Utama, dalam sebuah perbincangan pekan lalu.
Ismail pun menegaskan, bahwa jika ingin benar-benar mengupas kesepakatan yang telah ditandatangani oleh sejumlah pemimpin kabupaten/kota se-Riau –termasuk Wan Abubakar sendiri– pada 15 April tahun lalu itu, masalah dukungan pemerintah daerah secara nyata pun bisa dipertanyakan. “Misalnya, tentang terwujudnya semacam Perda untuk menanggulangi masalah-masalah HIV/AIDS, yang katanya “segera”, termasuk soal penggunaan kondom, dalam poin 2 dan 3 Komitmen Batam itu. Juga, masalah alokasi anggaran yang mencukupi dalam APBD (poin 5), itu sudah atau belum?” lontar Ismail.
Terlepas dari persoalan-persoalan birokrasi dan penjabaran program, yang jelas HIV/AIDS di Riau sebagaimana juga di beberapa daerah rawan lainnya, masih sangat mungkin akan terus berkembang. Hal ini dilatarbelakangi terutama oleh kemajuan kota, yang diiringi pertunbuhan ekonomi dan pusat-pusat industri, serta membawa implikasi modernisasi kehidupan warga masyarakat dengan segala dampaknya. Perkembangan dunia pariwisata, hiburan (termasuk hiburan malam), keberadaan lokalisasi dan PSK, globalisasi informasi yang seiring perkembangan teknologi, dan sebagainya, menjadi faktor pendorong yang saling berkaitan.
Meskipun HIV sendiri tidak melulu ditularkan melalui hubungan seks, tapi minimal, kepada wanita seperti Kenanga dan kawan-kawan misalnya, pemakaian “alat penghambat” alias kondom tetap perlu ditekankan. Sama perlunya dengan kepastian darah bersih untuk transfusi, atau jarum suntik yang steril (sekali pakai), hingga nasehat-nasehat moral untuk menjauhi perilaku sosial beresiko kepada masyarakat secara umum. HIV/AIDS memang harus diatasi secara bersama, dengan niat tulus dan tekad serius, serta saling koordinasi antar semua kalangan. Mari, renungkan bersama malam ini!***
///////////////
More Old Poems…
Well.. there are more of them here, with the same details as I mentioned above. Have a look!
![]()
——–
=Kilas Balik (Sajak-sajak Datuak)=
Dalam Ketakberdayaanku
kutarik-tarik helai rambut yang mengering
kuraba pipi yang penuh jerawat
kutengadah.. seekor nyamuk gigit lengan kurusku
pagi ini begitu beku
warnanya masih samar
kelabukah hari ini?
cicak merayapi dinding tripleks di sebelahku
kain kusam alas tidurku sudah begitu kotor
sementara kursi itu, sudah tak enak lagi diduduki..
pakunya mencuat di sana-sini
tapi,
aku masih di sini
tak perlu bertanya kenapa
sebab aku pun tak punya jawabannya
meski tikus-tikus tak pernah alpa mengusik tidurku tiap malam..
dulu sekali, ketika jalanan masih aman untuk berlari-berkejaran,
ibuku pernah bilang..
duniamu nanti akan lebih luas dari ini anakku!
ah..
nyatanya kenyataan tak seindah mimpi ibu
bumi memang berputar, bu!
waktu, memang terus bergulir
tapi siapa bilang hidupku tak jemu
bu..
bisakah aku kembali ada di pelukmu?
ditatap mesra, dibelai lembut kasihmu..
seekor kecoa melintas di depanku..
plak! kulempar ia dengan sepotong kayu
tak kena
berlari ringan, ia menghilang..
pkb – 002
Pui-si Gila
isi.. isi saja isimu!
cari.. carilah aku!
gula-guli, jula-juli,
jari-jari!
mamaku jungkat-jungkit
kamu terbirit-birit
masuk parit!
apakah itu?
hitam-legam kembang-kempis
mana?
kiri-kanan, atas-bawah
kau maki-maki aku mengumpat-umpat
suwang-suwing, kolang-kaling
siapakah dia?
gila kali!
pkb-02
Di Kediaman Malam
di kediaman malam
di sela kesiur angin dingin
tubuhku membeku
membatu dalam kehampaan rasa kalbu
suatu hari, hari itu
aku mendengar-Mu
tersadar atas isyarat-Mu
tapi kemudian ku melupakan-Mu
melayang
terombang-ambing
dipermainkan halusinasi
menjejak kaki di puing-puing
menunggu saat terbaring..
menatap ke sudut-sudut
nadi berdenyut satu-persatu
mungkinkah tergapai agung-Mu?
kelam, hitam, kelabu..
sulur-sulur kenistaan semakin menyungkupku
tak terasa lagi sakit
tak terkecap lagi manis
tak tercium lagi harum
diriku busuk
di tengah seonggok tanah galian
kediaman malam jadi temanku..
(kota bertuah; kosong dua)
Anak Manusia Mencari Cinta
seketika kuterbangun
setelah sekejap tertidur
ada yang hilang..
apa? cinta!
memalingkan muka
kumelongok mengerjap-ngerjapkan mata, mencari-cari
kutanya dinding beku,
jendela kaku,
pintu kayu..
adakah dia melintas?
hening..
dan aku kembali terlelap
(dini hari di kota bertuah; 2002)
=Puisi-puisiku Baru (Datuak)=
Hujan Ketika Senja
hujan ketika senja
ketika tetes menjadi bulir-bulir
mengalir
dari dahi ke ketiakku
bercampur peluh meluruh
ketika itu langit gelap
bulan lenyap mentari sekarat
ketika bunyi hanyalah desir
bubungan rumah ditimpa air
selokan jadi genangan
di saat kubergerak
menembus terus jalan lurus
menerjang rentang antara bayang
tak menepi
tak hendak berhenti
tak bermimpikan sepi
masih ada lilin dalam hati
meski ketika senja
hujan datang menerpa
(Pekanbaru, 2 Nopember 2002)
Hanya Berkeluh Kesah Saja
Jangan panggil aku Panglima, Ibunda!
Karena aku bukanlah sesiapa
Jangan sebut Tuan Muda
Jangan Laksemana
Diriku tidak ada artinya
Biar bersama
Biarpun satu saja
Biar isi dunia berlalu sepanjang masa..
Aku bukanlah Panglima!
Hidupku semata momentum semu
Tiada aku tanpa dirimu
Tidak jasad, bukan jua ruhku
Kepada Sultan
Pada Yang Dipertuan
Aku pintakan perlindungan
Beri bantuan juga hukuman
Beri titah dengan kebijakan
Tersebab aku hanyalah satu di antara para budak belian
Bukan Panglima, tidak pula Laksemana
Apalagi Raja
Di mana pula ku kan punya pengikut
Atau pemuja yang selalu ribut
Tiada pemberi salut
Tak seseorang kubuat menurut
Aku bukan Panglima
Sebab aku tak ada berada
Tak sekeping harta, tidak daya
Kekayaan tanah cuma milik mereka
Aku dendam tapi ku diam
Aku berhayal saja di kelam malam
Aku bingung lalu termenung
Aku sakit dan terjepit
Aku hendak berteriak
Tapi yang keluar cuma serak
Bisu
Jadi, Ibundaku..
Bukan ku tak bangga akan ucapmu
Aku ini bukan Panglima
Hanya sesuatu yang biasa
Seorang ini sahaja..!
(Pekanbaru-Riau, November 2002)
Merembang Petang: The Urban Sensation
adalah ketika itik pulang ke kandang
burung layang-layang
terbang bersisian
orang-orang mudik dengan tangan kaki penuh kotoran
tepiskan celana dari lumpur
menghitung gurat wajah yang kendur
menapak di tanah subur
adalah saat merembang petang
linu mulai merasuk tulang
amai-amai dengan uang di tangan
genggam hasil jualan seharian
melangkah
kepalkan tangan
pulang bersama itik dan burung layang-layang
berbalik arah kehidupan
ke perputaran siang dan malam
mengamit si buyung
menyeka ingusnya dari lubang hidung
kepul asap membumbung lelah
tandai semua jerih payah
tubuh ingin segera rebah
melepas beban ke peraduan
gantungkan pakaian
sandarkan peralatan
simpan parang dan senapan
langit petang beri keteduhan
lesap segenap panas menyengat
redam setiap bunyi derap
dan itik-itik pun pulang
burung layang-layang
satu-persatu menghilang
itulah kenangan
yang segera buyar ketika lampu diskotik berpendaran
house music berdentuman
jalan dipenuhi deru kendaraan
tak peduli lagi pada petang
acuhkan begitu saja mentari terbenam
itik pun cuma santapan di jamuan makan malam..
(pekanbaru kota, senja, oktober 2002)
Bait Pantun untuk Ibu
Ibu..
Bukan hutan sembarang hutan
Hutan kayunya tak boleh ditebang
Bukan maksudku melupakan
Hanya kesempatan yang tiada datang
Dari hulu sungai mengalir
Mengalir tenang riak gelombang
Sedari dulu aku terpikir
Dirimu seorang yang kan kujelang
Kembali, Ibu..
Tak cuma pantun dalam hatiku
Namun kasihmu seputih salju
Membalutku tak pernah kelabu
Bak berburu ke padang datar
Mencari rusa tak dapat lagi
Sampai mulutku diam terkapar
Terima kasih hamba tiada berhenti
Kasihmu Ibu..
Melintas laut seberang pulau
Mengembang layar dayung perahu
Segalanya padaku hasil jerih engkau
Tak terlupakan sepanjang waktu
Rindu
Kelu
Masuk merasuk sumsum tulangku
Sepi
Tiada arti
Sesak aku untuk kembali
Tapi selalu dirimu harus menanti
Orang Bagan pergi ke pekan
Jual ikan pembeli kain
Tunggulah aku Bu, di pintu depan
Janjiku kali ini tak main-main
(Rantau Riau – 2002)
///////////////
[updated 21 may 2008]
This is just a Sample Song
“Kau akan Kembali”
pagi hadir di sini
hamparkan rasa sepi
sendiri ku menanti
ku hitung langkah waktu
membayangkan dirimu
selalu kau ku tunggu
*ku percaya janji..
kembali.. kan akan kembali
padaku lagi..
kasih.. kau akan kembali
di saat perpisahan
kita telah yakinkan
demi masa depan
dan takkan pernah ada
setitik rasa curiga
pastikan setia
*ku percaya janji..
kembali.. kan akan kembali
padaku lagi..
kasih.. kau akan kembali




alo.. pdat… ba’kabanyo disono?…
lai elok2 se ndak yo…
bilo baliak ka endonesia pdat?
salam dari kami sakaluarga neh
samoga sehaik2 se dinagari bule tu
halo drie..
awak lai sehat & elok2 se nyo drie.. adrie & kluarga lai juo kan?;)
walopun mgkn msh traso lamo (msh 1,5 semester lai), ndak lamo lai lah bakalan baliak ka indo mah drie.. klo ndak akhir thn ko, awal thn bisuak..
iyo, thanks yo drie.. salam juo utk kluarga..
Hai pdat…
Masih adakan?
he he…
Awak asa buka solusoqui ko slalu pengen baca sajak dan puisinya.. he he.. tapi masa ndak ado yang baru pdt?
paling tidak puisi nan berhubungan jo gadih-gadih bule…
atau sesama pribumi di nagari bule. singkeknyo yang aptudet gitulah.
halo drie.. msh, masih ‘hadir’ kok..! hehe..
mm, emg sih drie, awak lah lamo ndak ado buek2 puisi/sajak do.. (aplgi ttg cewek, hehe..)
tp, kbtlan sih, ptg ko ado puisi ketek ciek, ttg sosial/umum sj.. (jdlnyo “kereta api super cepat..” ado di hlmn home). itu puisi (berbhs indonesia) ttg bencana2..
Minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir bathin pak dat.
Sorry telat… maklum awak githu lho! he he he
drie.. samo2, mohon maaf lahir batin juo..

iyolah, ndak apo2 do.. adrie gitu lho.. hehe
btw, baa kaba drie? sehat & lancar sgala sesuatu kan? urang rumah & si kecil aya, sehat? titip maaf & salam skalian yo..
sehat sadonyo mah… padat.
athaya ado di queenonvector.blogspot.com katiko umua 6-7 bulan kalo ndak salah, sudah tu blog ndak parnah dirawat. Maklum.. awak!
bilo jadinyo baliak padat?
Padat jan lupo maskot/souvenir ausi nya yah…
bialah murah yang pantiang paten he he…
ndak ndak.. bialah murah yg penting ramah lingkungan.
Kalo ngga ada gpp pdat jan dipaksakan beko kesanyo awak manyusahkan eh tapi mang manyusahkan yo? ngg… baa yo tasaralah padat ado ndak ado yang pantiang awak alah bapasan ha ha ha….
hehe.. drie. iyo, lai pernah liek sekilas blog tu mah drie. ado di link namo adrie yg sblmnyo kan..? bs kenal juo wak samo wajah si kecil..
oke. oleh2, insyaallah, wak usahoan drie.. apo adonyo se tp yo (yg agak binguang wak mmg, sabanyak tu urang di pakan/alun padang, mgkn ndak bs dapek oleh2 sadonyo do..)
oyo, mgkn akhir januari lah di pakan.. sbnanyo pas sblm thn baru mgkn alah bs smpai di jkt, tp pengennyo dstu dl bbrpa wktu, trus musti ka padang pl dulu kan..
iyo pdat… namo awak sangajo diselamatkan karena ado terlibat diskusi agak babayo jo urang. he he… awalnya sih iseng eh belakangan mulai ndak lamak (sabananyo pantiang ndak sih awak caritoan? he he…)
eh jan sariuih bana masalah oleh-oleh tu mah pdat.. bagaranyo. Awak paham keadaanyo mah. Samolo dulu katu awak dinagari urang. gondrong-gondrong giko awak pernah lo nyo kanagari asiang he he…
wah, carito ‘agak babayo’? gawat juo tu mah. hehe.. tp lah aman kini kan yo.
soal oleh2, no problem lah drie.. pokoknya asal lai ado, brarti ado (apo mksdnyo ugkapan tu wak pun krg jaleh.. hihi).